Penjual Martabak dan Sarang Burung

26 Feb 2014

Suatu malam saya merapat ke sebuah gerobak makanan. Cuaca dingin akibat guyuran air hujan membuat udara Bogor semakin menggigil. Namun harum adonan tepung yang terlihat hangat di atas tungku membuat saya tetap bersemangat. Setelah memesan satu buah martabak cokelat, saya memperhatikan tukang martabak. Rambutnya hampir menyentuh bahu, badannya gempal dengan tinggi standar. Sambil menanti martabak saya matang, saya tak menyia-nyiakan kesempatn menimba ilmu.

“Mas, sudah lama jual martabak?” ujar saya membuka percakapan.

“Ya lumayan, Mas.” Ia menjawab singkat sambil tersenyum. Terdengar aksen Tegal-nya yang kental.

“Bagaimana awal Mas berjualan martabak? Kenapa jual martabak?”

“Tadinya saya ikut paman jualan martabak di beberapa tempat. Lalu ketika saya bisa buka, saya buka di Bogor.” Kali ini jawabannya lebih mengalir.

“Oh begitu?”

“Ya, Mas. Awalnya saya jualan di kompleks sana, lalu pindah ke sini.” Ia menunjuk sebuah perumahan yang tak jauh dari tempatnya berjualan kini. “Sempat punya satu tempat lagi di dekat Yogya Mall, lalu tutup dan tinggal sekarang yang saya pegang sendiri.”

“Lumayan ya Mas hasilnya?”

“Alhamdulillah, Mas.” Senyumnya seolah menegaskan bahwa hasilnya berjualan cukup menggembirakan.

“Selalu ramai, Mas?” tanya saya lagi. (Saya nanya mulu ya, ahaha.)

“Kalau sudah punya pelanggan, enak, Mas. Ke mana aja kita dicari. Kita bisa ngandelin mereka yang udah setia.”

Saya diam.

“Dulu sih sudah banyak pelanggan di tempat lama. Setelah tutup ya musti cari pelanggan baru.”

“Gitu ya, Mas.” Lalu saya sengaja mengalihkan tema pembicaraan. “Udah lama Mas merantau, Mas? Memang kenapa merantau, Mas?”

Sebenarnya ini pertanyaan klise. Orang-orang dari daerah Mas ini tinggal kebanyakan memang perantau. Selain membuka warung makan, mereka juga mengelola gerobak gorengan, pengelasan, percetakan, dan bahkan ada yang berprofesi sebagai penulis buku.

“Ya biar maju Mas. Kalo di kampung gitu-gitu aja.

“Gimana perjalanan Mas?”

“Ya kita kan manusia, Mas. Kita diberi akal. Susah ya harus berusaha. Burung aja yang ga punya akal bisa bertahan hidup dan tetap makan. Apalagi kita.”

Ucapannya terakhir ini membuat saya tercenung. Sejenak saya teringat ujaran seorang satpam di kantor tempat saya dulu pernah bekerja. Dia dan istrinya memang getol berusaha, apa saja, demi dua anak mereka. Entah lulusan apa mereka, yang jelas bukan sarjana. “Mas Rudi dan istri kan sarjana. Pastilah ada yang bisa digagas dan dikerjakan sesuai kondisi Mas.” Begitu ucapan Pak Satpam suatu hari. Dia mengatakan demikian saat saya dan istri resign dari tempat kerja. Kami gamang akan memulai usaha apa.

Memang benar, kesuksesan bukan ditentukan oleh pendidikan semata. Bukan oleh kecerdasan otak belaka. Namun berkat kegigihan dan usaha tak kenal menyerah. Selagi berupaya, pasti ada jalan. Pasti. Dan betul kata dia. Saya sedikit demi sedikit bisa melangkah dengan bisnis yang kami bisa. Tentu tidak mudah tapi selalu ada cahaya kemudahan.

Percaya dan jalani. Burung saja bisa membangun sangkar dengan begitu indah, dan setiap hari makan dari rezeki Tuhan. Masak kita yang lebih sempurna daripada burung tak bisa?

Terima kasih, Abang penjual martabak.


TAGS martabak life skill


-

Author

enigma

Follow Me