Senyum Mantap Penjual Bubur Kacang Ijo

3 Mar 2014

Pagi tadi, selepas mengantar wingko pesanan pembeli di Jalan Pajajaran, saya tak kuasa menahan lapar. Perut seketika memerintah otak untuk mencari semangkuk bubur kacang ijo. Setelah berputar-putar di area Universitas Pakuan dengan hasil nihil, akhirnya ketemu juga seorang penjaja burjo keliling.

Dia berjalan sambil mendorong gerobak mungilnya melintas di daerah Lawang Gintung, hanya beberapa puluh meter dari pabrik obat terkenal Boehringer Ingelheim. Penampilannya rapi, dengan setelan celana jeans biru dan kaos polo dengan warna senada. Plus topi yang menambah wibawa, isy, apaan sih ;)

“Bang, satu ya.”

“Bungkus?”

“Enggak. Makan sini aja.”

Dia langsung cekatan dan segera menyodorkan semangkukburjo hangat berkepul-kepul. Setelah menyendoknya hingga tandas, saya pun menanyakan harga. Sangat murah, cuma 3.000 rupiah.

Ketika ia memasukkan uang ke dalam laci gerobak, saya berujar, “Punya sendiri, Bang?” (Dasar prenjak, sukanya ngoceh :D )

“Iya, punya sendiri.” Ia menjawab sambil tersenyum. Lalu segera mendorong gerobaknya menuju Jl. Siliwangi. Saya yakin senyumnya menegaskan kegembiraan karena ia menikmati pekerjaan dan hasil penjualan burjonya.

Sayang sekali saya tak bisa banyak bercakap-cakap. Sepertinya senyum itu adalah tanda agar saya tak mewawancarainya karena dia mesti menjemput rezeki pada pukul tujuah pagi itu. Didorongnya gerobak mungil itu dengan penuh semangat. Pemuda yang mengesankan. Tidak malu berjualan dan tidak memilih jalan makar yang justru membahayakan masyarakat. Ia happy memetik bulir-bulir rezeki dari keringatnya sendiri. Hebat!

Walaupun saya tak lagi muda, saya ingin meniru semangatnya. Dan menebar senyum tulus kepada semua orang (yang berpotensi membeli wingko saya). Xixixixi…

Punya cerita seputar kacang ijo?


TAGS bubur kacang ijo


-

Author

enigma

Follow Me