5 Kiat Agar Tetap Sabar

8 Jul 2014

Hari kelima puasa Ramadan kami sekeluarga tak sahur. Sungguh cobaan yang berat, apalagi bagi saya. Saya memiliki kelainan di ginjal sehingga bila kurang minum saat malam/sahur bisa dibayangkan betapa berat proses puasa sepanjang hari. Kebetulan esok paginya saya harus menjemput buku-buku ke percetakan dan mengantarnya ke ekspedisi. Siang begitu terik, tapi saya harus bertahan dalam kondisi puasa.

Jauh di lubuk hati, saya merasa ini ujian kesabaran yang sangat ringan. Apa sebab? Karena dulu Rasulullah bahkan menjalani perang dahyat saat beliau tengah berpuasa. Mereka tetap bersabar dalam menjalankan ketaatan. Masak sih gara-gara tidak sahur saya lalu berapologi untuk tidak berpuasa lantaran kehausan? Selain itu, ada alasan lain mengapa saya perlu menjaga kesabaran di bulan Ramadan.

Bagaimana resep saya menjalani hari-hari Ramadan dalam ikhtiar kesabaran? Bocoran kiat kesabaran sebenarnya tercermin dari jalinan kata SABAR yang terdiri dari lima huruf.

S untuk SYUKUR. Kalau kita ingin konsisten dalam kesabaran, cobalah kembangkan rasa syukur. Setiap kali kemarahan akan meledak, atau saat beban hidup demikian berat untuk ditanggung, benamkan pikiran dan hati kita dalam rasa syukur. Betapa di luar sana ada orang-orang yang jauh lebih menderita ketimbang kondisi kita. Di Bogor ada seorang ibu yang hanya memperoleh pendapatan sebesar 1.500 rupiah dari berjualan daun genjer. Walaupun ia ingin hidup lebih baik, namun ia tidak mengeluh. Kisahnya pernah diangkat dalam salah satu acara stasiun televisi swasta. Adakah kita yang lebih parah atau buruk kondisinya daripada dia? Kita mungkin masih aman bisa makan hingga sebulan ke depan, atau bahkan untuk setahun ke depan, namun ibu itu tiap hari harus bekerja keras untuk menjual barang atau sayuran demi anak-anaknya. Oleh karena itu, mari syukuri agar kita tetap sabar.

A untuk ATUR. Atur di sini maksudnya adalah mengatur hati agar tidak terpancing melakukan hal-hal destruktif. Jika ada kata-kata orang lain yang menyakitkan atau mengganggu, segera atur hati kita agar berada dalam frekuensi ibadah dan ingat kepada Allah. Misalnya saat kita membaca komentar negatif tentang salah satu capres pilihan kita, jangan biarkan jari-jemari kita mengetik ungkapan balasan yang jauh lebih busuk, walaupun itu menurut kita benar. Atau ketika pelanggan tak juga tergerak membayar tagihan padahal sudah jatuh tepo, jangan biarkan kepala panas lalu menelepon dengan memaki-maki. Arahkan hati kita menuju hal-hal positif dan produktif, seperti menulis, membaca, atau memperbanyak baca Al-Qur’an sebagai amalan utama di bulan suci ini. Niscaya hati jadi sejuk dan tetap dalam koridor kesabaran.

B untuk BENEFIT. Setiap hendak menjatuhkan pilihan atau mengesekusi tindakan, coba kita timbang-timbang dulu apa plus dan minus kegiatan tersebut. Saat hendak memutuskan untuk menyerang kubu lawan (misalnya dalam pilpres) yang notabene adalah teman dekat kita sendiri, coba pikirkan masak-masak manfaat dan mudarat keputusan kita itu. Sebanding tidak antara benefit dan pelammpiasan kesumat kemarahan kita terhadap teman kita? Begitu juga dalam hal lain, coba pertanyakan hati apakah kita benar-benar menginginkan suatu keputusan walupun itu menyakiti orang lain? Ingatlah keuntungan atau kerugian apa yang berpotensi muncul akibat tindakan ketidaksabaran kita.

A untuk ASIH-ASUH. Semua orang punya pilihan untuk melakukan apa saja. Dan dengan demikian mereka juga memiliki konsekuensi atau risiko atas setiap pilihan yang mereka ambil. Maka agar hati kita senantiasa tetap dalam garis kesabaran, jangan lupa melakukan hal-hal baik, yakni aktivitas yang mengadung kasih sayang. Kegiatan menolong orang lain dengan bergabung dalam komunitas peduli atau menjadi relawan, akan mendorong hati kita untuk terbiasa menebar asih atau rasa sayang kepada sesama, tanpa memandang agama atau suku maupun golongan mereka.

Jika hati terbiasa berada pada rel kebaikan dengan semangat asih dan asuh, maka insya Allah kita bisa berlaku sabar menghadapi apa saja, lebih-lebih pada bulan Ramadan. Sifat asuh berarti kita mau dan berkenan mendengar anjuran orang lain agar kita tidak keras kepala dan mamu membuka diri. Adanya sifat asuh berarti kita siap mendapat suntikan semangat atau kritik dari orang lain, ketimbang sombong dan terlalu percaya diri.

R untuk RAHASIA. Jika menyangkut kata satu ini, manusia tak lagi bisa berkutik. Sebab rahasia tidak selalu bisa kita ungkap. Ada keterbatasan dalam memandang atau menyikap hal-hal di luar jangkauan kita. Setiap hal atau sesuatu pasti memiliki rahasia. Bahkan masing-masing kita pun menyimpan rahasia, entah baik ataupun buruk. Kita harus bersabar menjalani kebaikan sebab kita tak tahu rahasia apa yang Tuhan sediakan bagi kita kelak, entah dalam jangka pendek ataupun panjang.

Hindari marah meledak-ledak hanya karena kita tidak suka pada sesuatu atau seseorang sebab kita tak tahu ada hikmah apa di balik hal itu. Siapa tahu Tuhan menyelipkan manfaat besar, atau mungkin pelajaran dahsyat di balik sesuatu yang menguji kesabaran kita.

Selalu ada rahasia di balik kegiatan atau apa saja yang kita alami. Jadi tak ada alasan untuk tidak bersabar. Selain pahala besar, orang sabar juga pasti akan diganjar dengan aneka imbalan di dunia yang fana ini.

Sabar itu cahaya yang terang benderang, demikian kata pepatah Arab. Yuk sabar yuk!


TAGS ngaBLOGburit sabar rahasia


-

Author

enigma

Follow Me