• 26

    Feb

    Penjual Martabak dan Sarang Burung

    Suatu malam saya merapat ke sebuah gerobak makanan. Cuaca dingin akibat guyuran air hujan membuat udara Bogor semakin menggigil. Namun harum adonan tepung yang terlihat hangat di atas tungku membuat saya tetap bersemangat. Setelah memesan satu buah martabak cokelat, saya memperhatikan tukang martabak. Rambutnya hampir menyentuh bahu, badannya gempal dengan tinggi standar. Sambil menanti martabak saya matang, saya tak menyia-nyiakan kesempatn menimba ilmu. “Mas, sudah lama jual martabak?” ujar saya membuka percakapan. “Ya lumayan, Mas.” Ia menjawab singkat sambil tersenyum. Terdengar aksen Tegal-nya yang kental. “Bagaimana awal Mas berjualan martabak? Kenapa jual martabak?” “Tadinya saya ikut paman jualan martabak di beberapa tempat. Lalu ketika
-

Author

enigma

Follow Me